Dari Musik Niche ke Tren: Mengapa Shoegaze Kembali Populer di Kalangan Anak Muda?

Jika membuka TikTok atau Spotify belakangan ini, tidak sulit menemukan lagu-lagu dengan nuansa melankolis, gitar yang bergema, dan vokal yang terdengar samar. Musik seperti ini semakin sering digunakan sebagai latar video bertema nostalgia, perjalanan, hingga momen refleksi diri.

Tanpa disadari, banyak lagu tersebut berasal dari satu genre yang sempat meredup selama bertahun-tahun, yaitu shoegaze.

Genre yang dulu hanya dikenal oleh penggemar musik alternatif kini kembali menarik perhatian generasi muda. Media musik Pitchfork dalam artikelnya The Shoegaze Revival Hit Its Stride in 2023 menyebut bahwa kebangkitan shoegaze dipengaruhi oleh media sosial, layanan streaming, dan munculnya musisi baru yang membawa warna serupa kepada pendengar masa kini.

Shoegaze lahir di Inggris pada akhir 1980-an sebagai bagian dari perkembangan musik rock alternatif. Band seperti My Bloody Valentine, Slowdive, Ride, dan Lush menjadi nama-nama yang membentuk identitas genre ini. Menurut Encyclopaedia Britannica, shoegaze memiliki ciri khas berupa lapisan efek gitar seperti reverb, delay, dan distortion yang menghasilkan suara atmosferik. Vokal dalam lagu biasanya tidak menjadi fokus utama, melainkan menyatu dengan instrumen sehingga menciptakan pengalaman mendengarkan yang emosional.

Nama shoegaze sendiri memiliki cerita yang unik. Julukan tersebut muncul karena para gitaris sering terlihat menunduk saat tampil di atas panggung untuk mengatur pedal efek mereka. Dari kebiasaan sederhana itu, lahirlah istilah shoe-gazing yang kemudian melekat sebagai nama genre tersebut.

Setelah sempat tenggelam pada akhir 1990-an, shoegaze kembali menemukan momentumnya di era digital. TikTok menjadi salah satu pintu masuk terbesar bagi pendengar baru. Potongan lagu yang digunakan sebagai latar video mampu menarik perhatian jutaan pengguna dan mendorong mereka mencari lagu aslinya di Spotify maupun Apple Music. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial kini bukan hanya tempat berbagi konten, tetapi juga menjadi ruang lahirnya tren musik baru maupun menghidupkan kembali genre lama.

Spotify juga memiliki peran penting dalam kebangkitan ini. Melalui algoritma rekomendasi dan playlist bertema indie, alternative, hingga dream pop, pendengar dapat menemukan musik shoegaze tanpa harus mencarinya secara khusus. Dalam Spotify Culture Next Report, perusahaan tersebut menjelaskan bahwa Generasi Z cenderung mengeksplorasi berbagai genre musik melalui rekomendasi digital dibandingkan mengikuti satu genre tertentu. Kebiasaan ini membuat musik lama memiliki peluang besar untuk kembali dikenal.

Kembalinya shoegaze juga tidak lepas dari tren nostalgia yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Gaya berpakaian era 1990-an, kamera analog, hingga musik alternatif kembali diminati oleh anak muda. The New York Times pernah menyoroti bahwa nostalgia menjadi bagian dari budaya populer saat ini, terutama di kalangan generasi yang ingin menemukan pengalaman baru dari karya-karya masa lalu.

Fenomena tersebut turut dirasakan di Indonesia. Semakin banyak band independen yang menggabungkan unsur shoegaze dengan indie rock maupun dream pop. Pertunjukan musik skala kecil hingga festival independen juga mulai menghadirkan musisi dengan karakter suara yang serupa. Meski belum menjadi genre arus utama, shoegaze kini memiliki komunitas pendengar yang terus berkembang.

Kebangkitan shoegaze membuktikan bahwa sebuah genre musik tidak pernah benar-benar hilang. Perkembangan teknologi membuat karya-karya lama lebih mudah ditemukan, sementara media sosial membantu memperkenalkannya kepada generasi baru. Dari musik yang dahulu hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, shoegaze kini kembali menjadi bagian dari percakapan di industri musik modern.

Bagi sebagian orang, shoegaze mungkin hanya terdengar seperti musik dengan suara gitar yang bergema. Namun bagi pendengarnya, genre ini menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar lagu. Shoegaze menghadirkan ruang untuk menikmati emosi, nostalgia, dan ketenangan dalam satu harmoni yang khas. Tidak mengherankan jika genre yang pernah dianggap "musik pinggiran" kini kembali menemukan tempatnya di hati banyak anak muda.

Location

Bandung, Indonesia

Year

2026

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.