Kisah Burberry dan Aquascutum dalam Skena Hooligan Inggris

Kalau kita ngomongin fashion mewah, biasanya yang kebayang adalah kemewahan, status sosial, dan eksklusivitas. Tapi ada satu babak aneh dalam sejarah mode Inggris di mana brand-brand seperti Burberry dan Aquascutum, yang harusnya jadi simbol kelas menengah ke atas, berubah menjadi simbol yang membuat pemakainya kerap dikaitkan dengan kelompok hooligan. Fenomena ini nggak lahir dari mode itu sendiri, melainkan dari tribun-tribun sepak bola Inggris di penghujung era 1970an, yang kemudian meledak menjadi salah satu subkultur paling ikonik sekaligus paling kontroversial sepanjang dekade 80an: Casuals.


Awal Mula: Ketika Bocah Tribun Jatuh Cinta pada Mode Eropa

Cerita ini bermula bukan dari catwalk, melainkan dari perjalanan tandang para suporter Liverpool FC dan Manchester United ke daratan Eropa. Mengutip dari liverpoolmuseums.org.uk/stories/what-terrace-culture. Sepanjang akhir 1970an, Liverpool FC nyaris selalu tampil di final kompetisi Eropa setiap tahunnya, dan hal itu membawa gerombolan suporter mudanya bertandang ke kota-kota seperti Roma, Paris, hingga Amsterdam. Di sanalah mereka menemukan sesuatu yang belum pernah mereka lihat di Inggris, yaitu sportswear Eropa dengan kualitas dan desain yang jauh lebih maju, seperti Sergio Tacchini, Fila, Ellesse, dan Adidas edisi yang belum masuk pasar Inggris. Sebagian dari barang-barang itu didapat dengan cara membeli, namun tidak sedikit pula yang menurut berbagai catatan sejarah didapat dengan cara mencuri dari butik-butik di kota yang mereka singgahi.

Sekembalinya mereka ke tanah Inggris setelah awaydays, suporter-suporter ini kemudian dikenal dengan sebutan Scallies di Liverpool, sementara rekan sekaligus rival mereka di Manchester dan Salford menyebut diri mereka Perry Boys, karena kegandrungan mereka pada produk kaus polo dari brand Fred Perry. Dua kelompok inilah yang oleh banyak pengamat budaya dianggap sebagai cikal bakal dari apa yang kelak dikenal secara luas sebagai gerakan Casuals, sebuah subkultur yang menyatukan obsesi pada mode kelas atas dengan budaya kekerasan di lingkaran suporter sepak bola.


Kamuflase yang Berubah Jadi Kode Bahaya

Yang menarik, alasan awal para suporter ini beralih dari atribut khas seperti syal klub dan jaket bomber ke pakaian bermerek justru sangat praktis, yakni untuk mengelabui aparat. Dengan tidak mengenakan warna klub, mereka bisa menyusup ke pub-pub milik suporter lawan, lolos dari pengawasan polisi di stasiun kereta, bahkan menyeberangi perbatasan tanpa dicurigai sebagai bagian dari kerumunan hooligan. Motonya sederhana namun ikonik, berpakaian rapi, berkelakuan buruk. Sejak saat itu, brand-brand seperti Fred Perry, Pringle, Sergio Tacchini, hingga kemudian Burberry dan Aquascutum, resmi menjadi identitas visual dari banyaknya kelompok-kelompok suporter garis keras di Inggris yang kelak disebut sebagai firms.

Aquascutum sendiri awalnya mulai dilirik para Casuals pada pertengahan 1980an, terutama setelah UEFA memperketat aturan keikutsertaan klub Eropa yang membuat suplai barang dari luar negeri jadi terbatas. Para suporter pun terpaksa beralih ke brand asal Inggris yang punya kesan mewah dan fungsional untuk cuaca dingin ketika dikenakan saat awaydays, dan Aquascutum dengan mantel-mantelnya yang tahan air pun jadi pilihan populer berikutnya setelah Burberry.


Puncak Kekerasan dan Bayang-Bayang Era Margaret Thatcher

Pertengahan hingga akhir dekade 80an menjadi puncak sekaligus titik paling gelap dari subkultur Casuals. Mengutip dari fashionunited.uk/news/fashion/burberry-banned-from-pubs/2004082237348, insiden demi insiden kerusuhan suporter terus terjadi, termasuk tragedi Heysel pada 1985 yang merenggut puluhan jiwa dan mencoreng nama sepak bola Inggris di mata dunia. Perdana Menteri Margaret Thatcher tak diam dan turun tangan secara terbuka menyerukan hukuman berat bagi para hooligan, sementara aparat memperketat pengawasan lewat kamera CCTV di stadion serta melakukan razia acak di pub-pub sekitar stadion. Ironisnya, semakin ketat pengawasan tersebut, semakin banyak pula suporter yang justru beralih ke pakaian mahal sebagai penyamaran, karena ketika mereka tampil rapi dengan jaket branded akan jauh lebih sulit dicurigai polisi ketimbang tampil dengan atribut klub yang mencolok.

Situasi inilah yang pelan-pelan mengubah citra dari brand-brand tersebut. Yang tadinya jadi alat kamuflase belaka, lama-lama malah jadi identitas yang gampang untuk dikenali, baik oleh sesama suporter maupun oleh aparat. Sebuah rekaman budaya populer yang cukup terkenal, lirik lagu Hooligans on E dari band The Libertines, bahkan turut mengabadikan citra tersebut lewat penggambaran suporter yang datang ke stadion dengan pakaian meat pies dan Burberry, atau Aquascutum kalau lagi beruntung.


Ketika Pub-Pub Mulai Menutup Pintu

Reputasi ini terus lekat hingga jauh melewati dekade 80an. Di awal tahun 2000an, saat motif kotak-kotak khas Burberry justru sedang naik daun di kalangan selebriti dan diadopsi besar-besaran oleh subkultur jalanan yang di Inggris dijuluki chav, sejumlah pub dan klub malam di berbagai kota justru mengambil langkah berani. Dua pub di Leicester, yaitu Parody dan Varsity, secara resmi memberlakukan larangan bagi para pengunjung yang mengenakan Burberry, Stone Island, Aquascutum, Henri Lloyd, hingga Rockport. Pihak kepolisian setempat pun bahkan turut membantu menyusun daftar brand tersebut, dengan alasan brand-brand itu kini telah dikenal sebagai seragam tak resmi para hools dan pembuat onar.

Kebijakan semacam ini bukan cuma terjadi di Leicester. Menurut sejumlah pemberitaan, beberapa bar di Skotlandia pun menerapkan larangan serupa terhadap motif kotak-kotak khas Burberry. Yang mengakibatkan Burberry sampai harus menarik salah satu produk andalannya, yaitu topi baseball bermotif checknya, dari pasaran serta menghentikan produksi sejumlah barang bermotif serupa demi mengembalikan citra mewahnya yang keburu kental dengan stigma kerusuhan dan kriminalitas jalanan.


Warisan yang Masih Hidup Sampai Sekarang

Meski masa-masa kelamnya sudah lama berlalu dan brand-brand seperti Burberry kini kembali dianggap sebagai simbol kemewahan setelah berbagai upaya rebranding yang mereka lakukan, jejak budaya Casuals pun tetap hidup dalam gaya berpakaian suporter sepak bola Inggris hingga kini. Brand seperti Stone Island dan CP Company yang dulu menjadi bagian dari seragam para Casuals di era 90an dan 2000an, kini justru berubah menjadi barang sakral yang diburu para anak muda di seluruh dunia, terlepas dari akar kelamnya di tribun-tribun sepak bola Inggris. Kisah ini menjadi sebuah bukti jelas bahwa mode dan identitas sosial adalah dua hal yang saling mengikat erat, dan kadang, sebuah jaket bisa menjadi cawan cerita yang jauh lebih rumit ketimbang sekadar gaya berpakaian belaka.

Location

Bandung, Indonesia

Year

2026

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.